Langsung ke konten utama

Apa artinya “Kasihilah musuhmu”?

War and child crying

Kita dapat mengasihi sesama kita, keluarga dan sahabat kita. Tetapi apa artinya mengasihi musuh kita? Apakah kita sungguh perlu melakukannya?

44Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah setiap orang yang memusuhimu. Berkatilah setiap orang yang mengutukmu. Berbuat baiklah kepada semua orang yang membencimu, dan berdoalah bagi setiap orang yang menghina serta menganiaya kamu.
( Matius 5:44 )

Secara teori saja hal itu sudah tidak terdengar mudah, dan dalam praktiknya tampak hampir mustahil. Apakah itu benar-benar perlu?…

Mari kita lihat bagaimana Yesus menjelaskannya.

44Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah setiap orang yang memusuhimu. Berkatilah setiap orang yang mengutukmu. Berbuat baiklah kepada semua orang yang membencimu, dan berdoalah bagi setiap orang yang menghina serta menganiaya kamu. 45Karena bila kamu berbuat demikian, kamu sedang mengikuti teladan Bapamu yang di surga, sebab Dia baik kepada semua orang. Misalnya, Dia membuat matahari bersinar untuk orang baik maupun jahat. Dia juga menurunkan hujan bagi orang yang hidupnya benar maupun yang berlaku jahat. 46Kalau kamu hanya mengasihi teman yang mengasihimu, jangan harap Allah akan memberi upah kepadamu atas kasihmu itu, karena para penagih pajak5:46 penagih pajak Pada zaman Yesus, Israel dijajah oleh kerajaan Romawi. Jadi kalau orang Yahudi bekerja untuk pemerintah Romawi sebagai penagih pajak, dia dianggap mengkhianati bangsanya sendiri. Karena itu, para penagih pajak dianggap orang berdosa oleh sesama orang Yahudi. Mereka juga dibenci karena suka menagih pajak melebihi yang sebenarnya (Luk 3:12-13). dan orang-orang berdosa yang lain pun mengasihi orang yang mengasihi mereka. 47Dan kalau kamu hanya memberi salam kepada teman-temanmu saja, jangan berpikir Allah akan menganggap kamu lebih baik daripada orang lain, karena orang-orang yang tidak mengenal Allah pun memberi salam kepada teman-teman mereka. 48Hendaklah kamu mengasihi semua orang! Dengan demikian kamu akan menjadi sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.
( Matius 5:44-48 )

Memang, jika kita melihat sekeliling, kita melihat bahwa setiap orang menerima sinar matahari dan hujan, serta udara segar untuk bernapas. Kita dan musuh-musuh kita ditempatkan di dunia yang indah ini, dengan pemandangan yang memukau dan hewan-hewan yang megah…

Jika kita melihat lebih dalam, kita melihat bahwa musuh-musuh kita juga memiliki ibu dan ayah seperti kita, entah mereka mengenalnya atau tidak. Dan mungkin orang tua mereka mengasihi mereka sama seperti orang tua kita mengasihi kita.

Berikut kutipan dari sebuah buku Sherlock Holmes karya Arthur Conan Doyle, tentang seorang wanita yang meratapi saudara laki-lakinya yang terbunuh, yang ternyata adalah salah satu penjahat paling berbahaya di negeri itu...

“Bagi seluruh dunia ia adalah manusia kekerasan, setengah binatang dan setengah iblis; tetapi baginya ia selalu tetap anak lelaki kecil yang keras kepala dari masa gadisnya, anak yang dulu berpegangan erat pada tangannya.”

Mungkinkah musuh kita adalah seseorang yang sebenarnya kita kasihi?

Bayangkan bagaimana Bapa surgawi kita menghembuskan kehidupan baru kepada orang yang sekarang kita sebut musuh, memeliharanya ketika ia masih dalam kandungan ibunya, lalu membuatnya lahir, menyediakan pakaian, makanan dan air minum selama bertahun-tahun ini… Dan sekarang Ia rindu mendapatkan kembali anak-Nya yang hilang, melihatnya tersenyum lagi dan memanggil Bapa surgawinya: “Ayah!...”. Allah mengasihinya sama seperti Ia mengasihi kita.

Mari kita ingat bagaimana Daud menyelamatkan nyawa musuhnya, Saul, yang terus mengejar dan berusaha membunuh Daud.

3Ketika Saul dan pasukannya tiba di tempat yang ada kandang-kandang domba, di situ Saul masuk sebuah gua untuk buang air besar. Tetapi pada saat itu, Daud dan pasukannya sedang bersembunyi di bagian gua yang agak ke dalam.
4Mereka yang bersama Daud berkata kepadanya, “Inilah hari yang TUHAN maksudkan ketika Dia berkata kepadamu, ‘Aku akan menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, supaya kamu dapat memperlakukan dia sesuai kehendakmu.’” Kemudian dengan diam-diam Daud mendekati Saul dan memotong sedikit dari ujung bawah jubahnya.
5Sesudah itu, walaupun Saul belum menyadarinya, hati nurani Daud tidak tenang karena dia sudah melakukan hal itu. 6Daud berkata kepada mereka yang bersamanya, “Semoga TUHAN mencegah saya untuk menyakiti raja yang sudah dipilih-Nya! Bagaimana pun juga, raja adalah orang pilihan TUHAN.”
( 1 Samuel 24:3-6 )

Inilah perkataan Daud kepada Saul tentang hal itu:

12Biarlah TUHAN yang menjadi hakim di antara kita, dan biarlah TUHAN menjadi pembela hamba ini dari serangan Tuanku! Tetapi saya sendiri tidak akan pernah menyakiti Tuan. 13Seperti pepatah lama berkata, “Yang melakukan kejahatan adalah orang jahat.” Tetapi saya sendiri tidak akan pernah menyakiti Tuan.
( 1 Samuel 24:12-13 )

Contoh lain tentang bagaimana mengasihi musuh kita adalah Yesus sendiri. Mari kita lihat apa yang Yesus katakan tentang orang-orang yang menganiaya dan menyalibkan-Nya.

34Kemudian Yesus berkata, “Bapa, ampunilah orang-orang ini, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.”
Lalu para tentara itu membagi-bagi pakaian-Nya dengan cara membuang undi.23:34 membagi-bagi … undi Kata-kata ini mengacu pada Mzm 22:18.
( Lukas 23:34 )

Dan inilah perkataan Stefanus ketika ia sekarat setelah dirajam dengan batu.

54Mendengar perkataan Stefanus, para pemimpin Yahudi sangat tersinggung dan geram. 55Tetapi saat itu Stefanus dipenuhi oleh Roh Kudus. Ketika dia memandang ke langit, dia melihat kemuliaan Allah dan Yesus yang sedang berdiri di tempat paling terhormat, yaitu di sebelah kanan Allah. 56Stefanus berkata, “Lihatlah! Saya melihat surga terbuka dan Yesus sebagai Sang Anak AdamMat 8:20 CK berdiri di tempat yang paling terhormat di sana.”
57Sesudah mendengar perkataan Stefanus itu, mereka berteriak sambil menutup telinga, lalu serentak menyerang dia. 58Mereka menyeretnya ke luar kota dan melempari dia dengan batu sampai mati. Orang-orang yang tadi bersaksi melawan Stefanus meninggalkan jubah mereka di dekat kaki seorang pemuda bernama Saulus.7:58 Orang-orang yang tadi bersaksi … Orang-orang yang dimaksud biasanya ditafsirkan sebagai orang yang disebut dalam Kis 6:11-14, tetapi juga bisa termasuk semua orang yang mendengar perkataan Stefanus di ayat 56. Lihat Im 24:16, Ul 17:7. 59Selagi orang-orang melempari dia dengan batu, Stefanus berdoa, “Tuhan Yesus, terimalah rohku.” 60Sambil berlutut, dia berseru dengan suara keras, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini atas mereka!” Sesudah berkata begitu, Stefanus mati.
( Kisah 7:54-60 )

Ketika membaca kisah seperti ini, kita tidak akan menyamakan diri dengan para pemimpin Yahudi. Tetapi bagaimana jika sebenarnya kitalah yang sedang membunuh utusan Allah yang tidak bersalah, yang menyingkapkan dan menegur kita?… Kita tidak tanpa dosa, dan suara yang diangkat melawan kita tidak muncul tanpa alasan.

Apa yang Anda rasakan terhadap para pemimpin Yahudi ketika membaca bagaimana mereka merajam Stefanus? Apakah Anda merasa marah, geram?… Bagaimana jika merasakan belas kasih terhadap mereka, karena mereka berusaha untuk benar dan berpegang pada hukum Taurat, dan benci ketika hal-hal yang tidak mereka lakukan dengan benar disingkapkan? Dalam banyak hal kita seperti mereka, dan mereka seperti kita. Marilah kita mengasihi mereka meskipun mereka berbuat salah. Dan berusahalah mengasihi musuh-musuh kita, sama seperti Allah mengasihi mereka.

4Sifat kasih itu sabar, murah hati, tidak iri,
tidak membesarkan diri, dan tidak sombong.
5Kasih itu tidak berbuat kasar,
tidak mengutamakan kepentingan sendiri,
tidak cepat marah,
dan tidak mengingat-ingat kesalahan orang lain.
6Kasih itu berdukacita waktu melihat orang lain melakukan yang jahat,
tetapi bersukacita waktu melihat mereka hidup sesuai ajaran benar.
7Kasih itu kuat bertahan menghadapi segala kesulitan.
Kasih selalu percaya dan mengharapkan yang baik tentang orang lain.
Kasih selalu tabah menanggung setiap keadaan.
( 1 Korintus 13:4-7 )
Terjemahan Sederhana Indonesia (TSI)